Generasi Z Indonesia mencatatkan diri sebagai penggerak utama pergeseran menuju quiet luxury. Bukan lagi soal mengejar outfit viral, generasi ini justru mengutamakan kualitas bahan, kenyamanan, dan tampilan yang terlihat mahal secara effortless.
Karakteristik Selera Gen Z
Penggunaan setelan busana dengan dominasi warna netral kini kian berakar menjadi kiblat fesyen harian di kalangan generasi muda. Palet seperti hitam, putih, abu-abu, hingga cokelat susu dipilih karena fleksibel untuk dipadupadankan.
Lompatan tren ini terlihat masif menghiasi lini masa media sosial, sudut kedai kopi, hingga koridor pusat perbelanjaan urban. Aura warna yang tenang dan tidak mencolok secara psikologis memberikan rasa percaya diri serta kenyamanan ekstra.
Data Perilaku Konsumen
Survei Populix terhadap 1.000 responden yang terdiri dari 51 persen Gen Z dan 49 persen Milenial mengungkap pergeseran makna konsumsi fashion. Sekitar 30 persen responden menyatakan kelayakan baju menjadi faktor lebih penting, dan 26 persen menyatakan pembelian baju baru hanya dilakukan dalam kondisi keuangan yang baik.
Riset McKinsey & Company yang dirilis pada 2022 mengungkapkan sekitar 65 persen konsumen generasi Z dan milenial lebih mengutamakan aspek keberlanjutan dan fungsionalitas dalam berbusana, di mana warna netral menjadi jangkar utama karena mudah digunakan berulang kali tanpa terlihat usang.
Psikologi di Balik Pilihan
Ditinjau dari aspek psikologi persepsi, studi yang diterbitkan dalam Journal of Fashion Marketing and Management menunjukkan bahwa pilihan warna pakaian memengaruhi penilaian profesionalitas. Penggunaan warna-warna netral secara konsisten membangun impresi visual yang menenangkan, tepercaya, dan matang.
Ini menjadikannya pilihan strategis bagi anak muda di fase awal dunia kerja digital. Tampil dengan busana netral dan potongan rapi memberi kesan siap profesional tanpa perlu mengeluarkan dana berlebihan untuk logo merek.
Kelelahan Digital dan Flexing Fatigue
Psikologi konsumen menunjukkan adanya flexing fatigue—kelelahan terhadap banjir konten pamer di media sosial. Dalam konteks ini, eksklusivitas justru ditemukan dalam sesuatu yang tidak bisa langsung dikenali orang awam.
Gen Z Indonesia merespons ini dengan mengadopsi gaya yang lebih subtil. Mereka menunjukkan bahwa kemewahan tidak harus selalu glamor, tapi bisa juga elegan dalam kesederhanaan.
Implikasi bagi Brand dan Retailer
Brand yang ingin menang di segmen ini perlu memahami bahwa Gen Z tidak lagi terkesan dengan logo besar. Mereka mencari cerita di balik produk, keterampilan tangan, dan nilai keberlanjutan. Ini menciptakan peluang bagi brand lokal yang mampu menghadirkan kualitas premium dengan narasi yang autentik.