Mengapa Obat yang Sama Bekerja Berbeda pada Setiap Orang
Selama puluhan tahun, kedokteran bekerja dengan paradigma “satu obat untuk semua.” Namun, kenyataan klinis menunjukkan bahwa pasien dengan diagnosis sama dapat merespons obat secara berbeda—sebagian sembuh, sebagian mengalami efek samping serius, sebagian lagi tidak merespons sama sekali. Jawabannya terletak pada variasi genetik.
Farmakogenomik adalah bidang ilmu yang mempelajari bagaimana variasi genetik individu memengaruhi respons terhadap obat. WHO mencatat bahwa Indonesia telah menunjukkan kemajuan penting dalam penguatan riset di bidang farmakogenomika, yang mempelajari pengaruh faktor genetik pada respons individu terhadap obat-obatan.
Data Populasi Yogyakarta: Fondasi untuk Prescribing yang Tepat
Sebuah studi penting yang diterbitkan dalam jurnal Clinical Pharmacology & Therapeutics pada April 2026 mengungkap frekuensi gen farmakogenomik kunci—CYP2C9, CYP2C19, CYP2D6, dan SLCO1B1—pada populasi Yogyakarta. Penelitian ini menjadi yang pertama menyediakan data frekuensi spesifik populasi untuk gen-gen tersebut di wilayah tersebut.
Hasilnya signifikan: ditemukan frekuensi tinggi alel CYP2C19 *2/*3 dan CYP2D6*10, konsisten dengan profil Asia Tenggara. Varian SLCO1B1 dengan fungsi berkurang juga prevalen, menunjukkan risiko elevated untuk miopati akibat statin. Alel CYP2C9*3 juga terdeteksi, memerlukan kehati-hatian dalam peresepan warfarin dan NSAID.
Penulis utama studi, Dwi Aris Agung Nugrahaningsih dari Universitas Gadjah Mada, menegaskan bahwa distribusi genotipe yang diamati menyoroti kebutuhan akan strategi farmakogenomik spesifik wilayah di Indonesia. Dataset foundational ini mendukung pengembangan pedoman peresepan yang lebih presisi.
Kolaborasi Riset Internasional: Unhas dan MRIN
Pada September 2026, Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin (FK Unhas) membahas rencana kolaborasi penelitian bersama Mochtar Riady Institute dan St Vincent’s Institute of Medical Research. Salah satu fokus utama yang dibahas adalah pharmacogenomics—bidang ilmu yang mempelajari pengaruh variasi genetik terhadap respons individu terhadap obat.
Kolaborasi semacam ini krusial untuk mempercepat akumulasi data farmakogenomik populasi Indonesia yang masih terbatas. Dengan memahami profil genetik spesifik populasi, dokter dapat meresepkan obat dengan dosis dan jenis yang tepat sejak awal, menghindari trial-and-error yang memakan waktu dan berbiaya tinggi.
Farmakogenomik untuk Tuberkulosis dan Hipertensi
Aplikasi farmakogenomik tidak terbatas pada onkologi. Tinjauan farmakogenomik dan variasi genetik yang mempengaruhi respons terapi tuberkulosis di Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan ini muncul sebagai cara penting untuk memahami bagaimana polimorfisme genetik memengaruhi metabolisme obat dan efektivitas terapi.
Untuk hipertensi, tim peneliti dari Universitas Brawijaya mengembangkan pendekatan farmakogenetika yang memungkinkan obat disesuaikan dengan karakter genetik setiap orang. Ini menjadi penting mengingat hipertensi merupakan salah satu penyakit kronis dengan beban biaya kesehatan tertinggi di Indonesia.
Menuju Kebijakan Farmakogenomik Nasional
Forum diskusi di Fakultas Farmasi Universitas YARSI pada Juni 2026 membahas perumusan kebijakan farmakogenomik nasional. Langkah ini menandakan bahwa farmakogenomik tidak lagi sekadar wacana akademis, melainkan sedang bergerak menuju implementasi kebijakan yang dapat diakses masyarakat luas.
Tantangan utama tetap ada: bagaimana mengintegrasikan farmakogenomik ke dalam kerangka Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan INA-CBG. Studi yang diterbitkan dalam Human Genomics pada Agustus 2026 mencatat bahwa terbatasnya inkorporasi asai genetik dan genomik ke dalam kerangka reimbursement JKN-INA-CBG menjadi hambatan utama.