Pekerja Luar Ruangan Menanggung Paparan Polusi Lebih Tinggi, Risiko Kesehatan dan Produktivitas Meningkat

Pekerja Luar Ruangan Menanggung Paparan Polusi Lebih Tinggi, Risiko Kesehatan dan Produktivitas Meningkat

Bagi jutaan pekerja Indonesia, udara tercemar bukan sekadar kondisi lingkungan, melainkan bagian dari tempat kerja. Pengemudi ojek, kurir, petugas parkir, polisi lalu lintas, pedagang kaki lima, pekerja konstruksi, dan petugas kebersihan dapat menghabiskan berjam-jam di dekat sumber emisi.

Paparan menjadi lebih tinggi ketika pekerja berada di jalan padat, persimpangan, terminal, lokasi proyek, atau kawasan industri. Mesin kendaraan yang menyala, debu konstruksi, pembakaran bahan bakar, dan aktivitas industri menciptakan campuran polutan yang terus berubah.

World Bank membahas sumber, dampak, dan strategi pengendalian polusi udara Indonesia melalui publikasi Clearing the Air: https://www.worldbank.org/en/country/indonesia/publication/clearing-the-air-indonesia.

Keluhan Kesehatan Sering Dianggap Bagian dari Pekerjaan

Mata perih, batuk, tenggorokan kering, sakit kepala, dan kelelahan sering dianggap sebagai konsekuensi biasa bekerja di jalan. Padahal, keluhan berulang dapat menjadi tanda tubuh terus terpapar polutan.

Pada pekerja dengan asma, alergi, penyakit paru, atau gangguan jantung, kualitas udara buruk dapat memperberat kondisi yang sudah ada. Paparan panas, dehidrasi, dan beban kerja fisik dapat menambah tekanan pada tubuh.

Produktivitas Ikut Terpengaruh

Ketika pekerja mengalami batuk, sesak, atau sakit kepala, kemampuan berkonsentrasi dan bekerja secara aman dapat menurun. Pengemudi yang kelelahan atau tidak fokus menghadapi risiko kecelakaan lebih tinggi.

Gangguan kesehatan juga dapat menyebabkan berkurangnya jam kerja. Bagi pekerja informal yang pendapatannya dihitung harian, tidak bekerja berarti kehilangan pemasukan. Biaya pemeriksaan dan obat menambah beban ekonomi keluarga.

Dengan demikian, polusi udara berpotensi menciptakan lingkaran masalah: pekerja terpapar saat mencari nafkah, kemudian harus menggunakan sebagian pendapatannya untuk mengatasi dampak kesehatan akibat paparan tersebut.

Perlindungan Kerja Perlu Memasukkan Risiko Polusi

Perusahaan transportasi, kontraktor, pengelola kawasan, dan pemerintah daerah perlu memasukkan kualitas udara ke dalam standar keselamatan kerja.

Pekerja dapat diberikan masker respirator yang sesuai, waktu istirahat di area dengan udara lebih bersih, akses air minum, pemeriksaan kesehatan berkala, dan informasi kualitas udara secara real time.

Jadwal kerja juga dapat disesuaikan ketika polusi berada pada tingkat berbahaya. Rotasi petugas membantu mencegah seseorang berada terlalu lama di titik dengan konsentrasi emisi tinggi.

Masker Bukan Solusi Tunggal

Masker dapat mengurangi masuknya partikel apabila jenisnya tepat dan terpasang rapat. Namun, masker tidak menghilangkan seluruh gas pencemar dan tidak menyelesaikan sumber masalah.

Perlindungan yang lebih efektif memerlukan pengujian emisi kendaraan, transportasi umum bersih, pengawasan industri, pengendalian debu proyek, serta pembatasan pembakaran terbuka.

Ruang kota juga perlu dirancang agar pejalan kaki, pesepeda, pedagang, dan pekerja lapangan tidak terus-menerus ditempatkan di koridor dengan polusi tertinggi.

Udara bersih merupakan bagian dari keselamatan kerja. Pekerja tidak seharusnya diminta memilih antara memperoleh penghasilan dan mempertahankan kesehatan paru-parunya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *