Provinsi Maluku memiliki lebih dari 1.340 pulau, tetapi sebagian besar tidak memiliki puskesmas permanen atau tenaga dokter. Kondisi geografis ini membuat warga harus menyeberangi lautan untuk mendapatkan layanan kesehatan dasar. Rumah sakit apung hadir sebagai jawaban atas keterbatasan infrastruktur kesehatan di wilayah kepulauan.
Kapal Kesehatan yang Membawa Dokter Spesialis hingga Bedah Minor
Rumah sakit apung bukan sekadar perahu pelayanan. Kapal ini dilengkapi ruang rawat inap, unit gawat darurat, laboratorium sederhana, apotek, dan ruang bedah minor. Dokter spesialis kandungan, dokter anak, dokter bedah, dan dokter gigi ikut berlayar secara bergiliran.
Data Kementerian Kesehatan per Juni 2026 (https://www.kemkes.go.id) menunjukkan 12 unit rumah sakit apung telah memberikan 380.000 layanan kesehatan kepada masyarakat di pulau-pulau terluar. Layanan yang paling sering diberikan adalah pemeriksaan ibu hamil, imunisasi, operasi katarak, pencabutan gigi, dan penanganan luka akibat kecelakaan kerja nelayan.
Operasi Katarak di Pulau Kei
Di Pulau Kei, Maluku Tenggara, seorang nenek berusia 74 tahun kembali melihat setelah menjalani operasi katarak di atas kapal. Sebelumnya, ia tidak pernah memeriksakan matanya karena biaya transportasi ke rumah sakit di Ambon terlalu mahal. Operasi berlangsung kurang dari satu jam, dan pasien hanya perlu beristirahat semalam di ruang pemulihan kapal sebelum dipulangkan.
Kasus ini memperlihatkan bahwa layanan spesialistik dapat dijangkau tanpa harus membangun rumah sakit besar di setiap pulau. Pendekatan bergerak lebih efisien untuk populasi yang tersebar dengan kepadatan rendah.
Kolaborasi Pemda dan Jadwal Rutin Setiap Dua Bulan
Rumah sakit apung beroperasi dengan jadwal rutin. Setiap unit mengunjungi gugusan pulau tertentu setiap dua bulan sekali. Pemerintah daerah berkoordinasi dengan kepala desa untuk menginformasikan jadwal kedatangan. Pasien yang memerlukan tindak lanjut dirujuk ke puskesmas terdekat atau rumah sakit rujukan di ibu kota kabupaten.
Selain pelayanan kuratif, kru kapal juga melakukan penyuluhan gizi, sanitasi, dan kesehatan reproduksi. Data kunjungan menunjukkan peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pemeriksaan kehamilan hingga 40% di pulau-pulau yang rutin dikunjungi.
Penambahan unit kapal dengan desain dek helikopter menjadi prioritas untuk memangkas waktu evakuasi medis dari pulau-pulau terluar. Dengan begitu, pasien gawat darurat dapat segera diterbangkan ke rumah sakit yang lebih lengkap.